Osteomyelitis: Apa Penyebab dan Bagaimana Patofisiologinya?

Staphylococcus aureus adalah agen penyakit yang paling sering ditemukan, diikuti  Streptococcus pneumoniae dan Streptococcus pyogenes.  Community-associated methicillin-resistant S. aureus (CA-MRSA) adalah masalah resistensi yang terus meningkat dan penyebab tersering pada banyak negara.[6,7,8]

Bakteri gram negatif dan streptococcus grup B sering ditemukan pada neonatus. Pseudomonas aeruginosa sering dikaitkan dengan osteomyelitis dan osteokondritis setelah luka penetratif pada kaki.[1]

Anak-anak dengan daya tahan tubuh yang lemah rentan terhadap infeksi berbagai jamur dan bakteri. Lesi tulang akibat Bartonella henselae (biasanya pada cakar kucing) juga pernah dilaporkan. Salmonella adalah penyebab penting osteomyelitis pada anak-anak dengan penyakit sickle cell dan jenis hemoglobinopati lainnya. Kingella kingae, yaitu bakteri gram negatif, semakin banyak ditemukan sebagai penyebab infeksi osteoartikular, terutama pada usia 2 thaun dan sering mengikuti infeksi saluran pernafasan. Bakteri anaerob seperti genus Bacteroides, Fusobacterium, Clostridium, dan Peptostreptococcus jarang menyebabkan osteomyelitis.[1]

Organisme  penyebab dapat disederhanakan berdasarkan kelompok usia. Anak-anak berusia kurang dari 1 tahun biasanya disebabkan oleh kelompok Streptococcus sp. grup B, S. aureus, Haemophilus influenzae (5-50%), dan Escherichia coli. Anak-anak berusia lebih dari 1 tahun biasanya disebabkan oleh S. aureus, E coli, H influenza, Serratia marcescens, dan Pseudomonas aeruginosa. Sedangkan pada usia dewasa biasanya disebabkan oleh S. aureus, E. coli, S. marcescens, dan P. aeruginosa. Individu dengan anemia sickle cell biasanya disebabkan oleh Salmonella sp. dan S. aureus. Individu dengan diabetes biasanya disebabkan oleh coccus Gram positif, seperti Streptococcus, Staphylococcus, dan Enterobacter sp. Sedangkan individu dengan infeksi eksogen disebabkan banyak spesies termasuk bakteri anaerob dan Pseudomonas sp.[2]

S. aureus adalah agen penyebab pada 70 – 90% kasus anak. S. aureus, yang memiliki kemampuan mengikat kartilago, menghasilkan glikokaliks sebagai pelindungnya dan merangsang pelepasan endotoksin, menyumbangkan 90% infeksi di semua usia.[9]

Bakteri melalui pembuluh darah bersama zat-zat gizi yang dikirim ke metafisis dimana bakteri ini berkembang biak. Physeal plate berfungsi sebagai barrier terhadap perluasan infeksi ke epifisis karena lempeng/plate ini bersifat avaskular. Infeksi umumnya menyebar dari fokus primer di intramedulla ke ruang subperiosteal melalui kanal Havers di korteks yang kemudian membentuk abses subperiosteal. Jika abses ini ruptur, infeksi menyebar ke jaringan lunak sekitarnya. Peradangan di metafisis menyebabkan eksudasi, meningkatkan tekanan intraosseus, stasis aliran darah, trombosis, nekrosis tulang, dan resorpsi tulang. Kadang-kadang infeksi meluas ke sendi terdekat. Tulang jenis tubular memiliki metafisis terbesar dan paling cepat bertumbuh  sehingga di daerah inilah lokasi infeksi terbanyak. Sekitar 75% anak-anak memiliki infeksi di daerah tersebut, yaitu daerah proksimal dan distal dari tulang femur dan tibia, daerah distal humerus, dan fibula.[2]

Pada anak-anak yang lebih dewasa, organisme yang menginfeksi biasanya  adalah S. aureus sedangkan pada neonatus dan bayi lebih sering diinfeksi oleh Streptococccus beta-hemolyticus grup A. Mycobacterium sp., nakteri Gram negatif, sifilis, dan jamur maupun virus  jarang menyebabkan osteomyelitis. Salmonella dapat menyebabkan osteomyelitis, terutama pada anak-anak dengan penyakit sickle cell. Trauma lokal dapat menurunkan resistensi host dan menjadi faktor predisposisi seorang individu terkena osteomyelitis.[2]

Abses Brodie adalah bentuk terlokalisir dari osteomyelitis yang muncul pada tahap subakut tanpa didahului gejala akut. Pemeriksaan histologis menunjukkan adanya jaringan granulasi yang mengiringi di sepanjang kavitas abses intraosseus. Bakteri penyebabnya adalah S. aureus. Pasien secara khas mengeluhkan nyeri yang relatif ringan, yang berulang dalam beberap bulan hingga tahunan. Daerah tulang yang sering terkena adalah metafisis atau diafisis tulang femur atau tibia. Infeksi dapat menyeberangi lempeng pertumbuhan. Pembengkakan jaringan lunak lokal terjadi minimal dan tidak ada massa jaringan lunak yang timbul.[2]

Bakteri penyebab biasanya adalah Staphylococcus yang positif terhadap koagulase (30 – 60%). Bakteri lainnya adalah Streptococcus, Pseudomonas, Haemophilus influenzae (lebih jarang setelah ada vaksinasi), dan ada pula Staphylococcus  yang negatif terhadap koagulase. Lundy dan Kehl mencatat adanya peningkatan prevalensi Kingella kingae, yaitu coccobasilus  Gram negatif, sebagai penyebab semua jenis infeksi osteoartikular pada anak-anak berusia kurang dari 3 tahun, termasuk osteomyelitis subakut.[4,10]

Pasien dengan anemia sickle cell merupakan faktor predisposisi terhadap infeksi Salmonella sedangkan Pseudomonas aeruginosa didapatkan pada pembuluh darah vena tulang dewasa  pelaku penyalahgunaan obat. Namun, hampir 25-50% kasus osteomyelitis subakut tidak didapati adanya bakteri yang dapat dikultur.[4]

Proses terjadinya penyakit terdiri atas 5 tahapan. Pertama, yaitu tahapan inflamasi, pada tahap ini terjadi peradangan awal disertai kongesti pembuluh darah dan peningkatan tekanan intraosseus. Penyumbatan terhadap aliran darah terjadi akibat trombosis intravaskular. Kemudian, pada tahapan kedua, yaitu tahapan suppurasi, dimana terdapat pus di dalam sistem kanal Havers yang berkumpul membentuk abses subperiosteal dalam 2-3 hari. Tahapan selanjutnya, yaitu tahapan sekuestrum, terjadi peningkatan tekanan, obstruksi pembuluh darah, dan trombus infektif yang menghalangi suplai darah periosteal dan endosteal sehingga terjadi nekrosis tulang dan pembentukan sekuestrum dalam 7 hari. Tahapan keempat, yaitu tahapan involukrum, dimana terbentuk jaringan tulang baru dari permukaan periosteum dan pada tahapan terkahir, yaitu tahapan resolusi atau malah berlanjut menjadi komplikasi. Namun, jika pemberian antibiotik dan terapi bedah dilakukan lebih dini, osteomyelitis akan sembuh tanpa komplikasi.[2]

  • Twitter
  • del.icio.us
  • Digg
  • Facebook
  • Technorati
  • Reddit
  • Yahoo Buzz
  • StumbleUpon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also likeclose