Utama

Menguji kebenaran sebuah pernyataan di era data raksasa

Setiap zaman atau era memiliki filsafat pikir yang penting untuk dibiasakan agar pikiran seseorang tidak menjadi budak bagi orang lain. Dari era industri pertama (mekanisasi), kedua (elektrifikasi), dan ketiga (komputerisasi), banyak berkembang filsafat pikir untuk membekali seseorang dalam hidupnya. Namun, era industri keempat sangatlah berbeda. Apapun filsafat pikir yang Anda pakai, akan dapat ditangkap dengan data, lalu diuji coba apa saja yang dapat membengkokkannya, dan dibuatlah pikiran Anda menjadi bengkok karenanya.

Terlepas dari segala kemungkinan itu. Tetap saja kita memerlukan filsafat pikir yang terang dalam menilai kebenaran suatu informasi/pernyataan. Sayangnya, di Indonesia, pembekalan filsafat pikir bagi seorang sarjana seringkali terbengkalai. Tidak jarang dosen pemangkunya seorang besar yang sibuk, tetapi belum tentu memiliki rekam jejak ilmiah yang kokoh. Seringkali pula, salah kaprah dengan menugaskan ahli filsafat, maka jadilah kuliah filsafat ilmu menjadi kuliah ilmu filsafat. Padahal keduanya sangatlah berbeda. Filsafat ilmu adalah landasan berpikir ilmiah, tetapi tidak seluas ilmu filsafat yang tidak hanya menyangkut proses pikir. Akhirnya, tidak terfokus pada filsafat ilmu yang justru kebutuhan bagi minimal seorang sarjana.

Tanpa filsafat pikir yang ilmiah, orang akan mudah terjebak dalam prasangka, dan salah memandang opini sebagai fakta. Hal ini penting dimiliki dalam dunia ilmiah, karena kita tidak ingin sains kita menjadi pseudosains yang menyesatkan.

Oleh karena itu, sangat penting untuk memiliki kerangka filsafat pikir yang kokoh, terus berlatih, dan membiasakan diri, agar semakin jernih dalam menilai kebenaran sebuah pernyataan.

Disclaimer (bantahan): Saya bukan ahli ilmu filsafat. Materi yang Anda baca tidak menjamin Anda mampu menguji kebenaran, karena tidak ada kebenaran sejati, dan manusia pada akhirnya hanya menduga-duga, termasuk prinsip-prinsip yang dokter Anda gunakan untuk mengobati Anda sekalipun. Namun, prinsip yang akan disampaikan adalah prinsip yang sama digunakan oleh peneliti-peneliti kedokteran untuk meningkatkan keselamatan pasien. Prinsip ini saya terjemahkan secara luas untuk kehidupan sehari-hari dalam bingkai ilmu data. Hal ini sesuai dengan bidang keahlian saya yang mencakup bidang kedokteran, data, dan biologi.

Jika membaca sejarah dari abad Yunani, abad pertengahan di Eropa maupun Timur Tengah, ataupun abad ke-20 pasca perang dunia II, Anda akan mengetahui beberapa filsuf dihukum oleh penguasa ragawi (kerajaan/negara/empire) ataupun rohani (otoritas keagamaan). Filsuf-filsuf ini tidak selalu ahli filsafat, tetapi kebanyakannya adalah ahli ilmu (apa saja) yang prihatin dengan nalar masyarakat di zamannya yang dimanfaatkan penguasa. Sebut saja Socrates, Galileo, Coppernicus, dll.

Karena sangatlah melelahkan untuk menguasai (menundukkan) seseorang, jika harus selalu berdebat dengan orang itu. Maka, jauh lebih mudah jika filsafat pikir seseorang dilemahkan, sehingga mudah disuapi dengan omong kosong.

Saya akan menjelaskan prinsip-prinsip untuk menguji kebenaran sebuah pernyataan. Perhatikan, hanya satu pernyataan, bukan banyak pernyataan. Perlu logika untuk menilai kebenaran dari banyak pernyataan, tetapi menguji satu diantaranya adalah bagian yang sangat mendasar.

Kemudian, penjelasan akan dilanjutkan dengan 2 contoh: 1) Contoh ketika Anda dapat menggunakan perkiraan angka (kuantitatif); dan 2) Contoh ketika Anda hanya bisa melakukan penilaian teks (kualitatif).

Saya menyarankan Anda untuk lompat-lompat dari prinsip ke contoh selama membaca, agar konteks dari penjelasan prinsip juga dapat Anda tangkap.

Tiga prinsip menguji kebenaran sebuah pernyataan di era data raksasa beserta contohnya:

Silakan lanjut ke halaman berikutnya.