Utama

Menguji kebenaran sebuah pernyataan di era data raksasa

Prinsip #1: Apriorism

Ketiga prinsip yang akan dijabarkan pada dasarnya merupakan jalan tengah dari pendekatan a priori dan a posteriori. Apakah itu? Kita akan sederhanakan secara ekstrim (oversimplified) kedua istilah ini:

  • A priori adalah pengambilan kesimpulan sebelum data didapat, diolah, dan dianalisis.
  • A posteriori adalah pengambilan kesimpulan setelah data didapat, diolah dan dianalisis.

Meskipun apriorism hanya mengandalkan pernyataan-pernyataan logis tanpa data atau bukti, hal ini tetap diperlukan untuk menunjukkan arah bagi kita mencari data untuk pembuktian.

Kita akan bagi menjadi 4 langkah:

  1. Akui ketidaktahuan/keterbatasan
  2. Cari tahu informasi yang ada
  3. Buat dugaan sementara
  4. Perkirakan atau cari tahu peluang kejadian.

Akui ketidaktahuan/keterbatasan

Meskipun ketidaktahuan (ignorance) ataupun keterbatasan (limitation) adalah jelas-jelas sebuah kelemahan, tetapi mengakuinya justru menjadi kekuatan.

Ini pula yang menjadi sebab kenapa yang banyak termakan hoaks di internet tidak jarang justru orang-orang yang berpendidikan tinggi. Hoaks menggunakan informasi-informasi rinci untuk memberi kesan benar. Jika bukan di bidang keahlian terkait hoaks tersebut, seseorang akan cenderung mempercayainya karena rincian-rincian ini. Orang yang berpendidikan tinggi tidak jarang bias persepsi, bahwa dirinya ahli di banyak bidang hanya karena cara berpikirnya tajam di satu bidang yang ia dalami. Ini mengurangi kritik terhadap cara pandangnya sendiri, sehingga mudah keliru menyimpulkan, dan dilakukan tanpa sadar.

Pada langkah awal ini, Anda harus mengucapkan apa saja hal-hal yang Anda tidak ketahui terkait dengan pernyataan yang sedang Anda nilai. Hal ini akan memancing diri Anda sendiri untuk menyadari apa saja yang perlu dicari tahu pada langkah berikutnya.

Cari tahu informasi yang ada

Setiap mau mengecek kebenaran berita, tidak jarang kita berpikir, tidak sempat mencari tahu sekarang juga. Coba Anda sadari, tidak lebih dari 2 menit untuk mendapatkan informasi dari Google. Jika dalam 10-20 detik tidak menemukan sesuatu dengan satu kata kunci, Anda dapat beralih ke kata kunci lain.

Berlatihlah membaca cepat dengan sering-sering melakukannya. Baca judul, paragraf pertama, tengah dengan melompat-lompat, paragraf terakhir, dan siapa sumbernya.

Dari informasi-informasi yang ada, lihat juga rentang waktunya. Ada bagian dimana Anda mencari tahu konsistensi kejadian dari orang yang sama dalam kurun waktu yang cukup lama. Jika kejadian A selalu terjadi dalam 10 tahun terakhir, maka kemungkinan besar tahun ini juga akan terjadi. Jika misal, tahun lalu tidak terjadi, maka ada suatu sebab yang perlu Anda pikirkan.

Jika tidak sanggup mencari tahu (entah karena waktu ataupun hal lain), maka jangan membuat dugaan, apalagi menyimpulkan. Diam saja. Tahan diri untuk berkomentar.

Buat dugaan sementara

Buatlah dugaan sesuai dengan pernyataan yang sedang dinilai. Misal, saya menduga [pernyataan yang sedang dinilai]. Pernyataan ini penting untuk diucap (perhatikan kata ‘menduga’) untuk memperkuat kesan dalam otak Anda bahwa ini masih dugaan. Otak kita meresapi sesuatu sesuai dengan informasi yang diterima, termasuk ucapan Anda (meski dalam hati). Jika tidak ‘diucapkan’, sinyal ‘dugaan’ itu tidak diperkuat di otak Anda.

Dugaan sementara juga penting karena dalam prinsip kedua, kita akan membuat berbagai versi dari dugaan itu. Oleh karena itu, dugaan ini harus dinyatakan dalam kalimat yang harus mengandung dua unsur.

Saya akan akan mengambil dari 2 contoh yang akan diberikan:

  1. “Konsumsi timun menyembuhkan sakit COVID-19”
  2. “Partai ungu berisi orang-orang yang menyudutkan agama kita.”

Dalam pernyataan #1, ada dua unsur, yaitu ‘konsumsi timun’ dan ‘sembuh dari sakit COVID-19’. Dalam pernyataan #2, juga ada dua unsur, yaitu ‘orang-orang partai ungu’ dan ‘agama kita disudutkan’.

Kedua unsur tidak harus sama kata-katanya dengan yang ada dalam pernyataan. Unsur 1 adalah sesuatu yang mendahului unsur 2. Kedua unsur juga harus bisa dibuat dalam bentuk serupa dengan ya dan tidak:

  • Konsumsi timun: Ya konsumsi dan tidak konsumsi
  • Sembuh dari COVID-19: Ya sembuh dan tidak sembuh
  • Orang-orang partai ungu: Orang dari partai ungu dan orang dari partai tidak/bukan ungu
  • Agama kita disudutkan: Agama kita disudutkan dan agama kita didukung.

Perkirakan atau cari tahu peluang kejadian

Kejadian yang dimaksud adalah unsur 2. Dalam 2 contoh sebelumnya, hal ini berarti berapa peluang sembuh atau tidak sembuh COVID-19, serta berapa peluang agama kita disudutkan atau didukung. Contoh kedua dapat membingungkan; ada baiknya Anda menilik contohnya di beberapa bagian berikutnya.

Peluang kejadian ini akan digunakan dalam prinsip berikutnya sebagai prior probability. Peluang ini tidak memandang ada tidaknya unsur 1. Jadi, peluang sembuh ataupun tidak sembuh COVID-19 di atas, tanpa memandang konsumsi ataupun tidak konsumsi timun.

Silakan lanjut ke halaman berikutnya.